Cintaku Pelangi

Diposting pada

Cintaku PelangiMau minum apa? tanyaku. Apa aja deh, Jawabmu. Aku terdiam sejenak, Kau tau? aku paling ga suka sama orang yang pasrahan, seakan-akan tidak ada pilihan, kayak orang yang tidak punya pendirian saja, gumamku dalam hati. Baiklah, Jawabku. Sejurus kemudian aku melampaikan tangan ke Waitress, memberi kode agar mereka datang ke meja kita. Waktu itu kita sedang duduk di salah satu cafe, tidak jauh dari kantor tempat kamu bekerja. Apa itu? aku bertanya sama kamu. Komik, jawabmu singkat sambil ngakak. Iya begitulah, kalau sudah ketemu komik kamu seakan lupa yang lain, terkadang sangat menyebalkan. Apa judulnya? tanyaku lagi. Pengantin Demos, Jawabmu, ooh pengantin demos, iya ya tau, jawabku. ceritanya yang rada horor kan? aku menegaskan. Kamu tau ga, pengarang komik itu sering di hantui marluk mistis lho, saking sering di ganggu, akhirnya komik itu nanggung, tidak tamat dan konon penulisnya sudah meninggal. Aku mencoba memasuki duniamu yang menurutku rada-rada aneh itu. Oiya? Jawabmu. Iya, lihat aja episode terakhir, pasti bersambung, padahal komik itu di tulis 20 tahun yang lalu.

Dalam perjalanannya, kita semakin akrab, aku semakin mengenal kamu dengan baik. Terkadang aku sering merasa jengkel sama kamu, walau aku tetap diam, menurutku. Untuk wanita seumuran kamu, harusnya lebih banyak melakukan aktifitas yang menghasilkan sesuatu alias produktif, bukan hanya menjalani rutinitas saja.

Suatu sore, kamu menelpon aku. Bang, temenin aku dong, pintamu dari ujung handponemu. Mau kemana? tanyaku. Nyari komik, jawabmu sambil tertawa campur manja dan agak malu. Emang mau cari kemana? tanyaku. Ke Apotik, Jawabmu, sambil ngambek, Iya nyari komik ke toko buku bang, kamu mempertegas. Iya, maksud aku, ke daerah mana? tanyaku. Pokoknya kemana saja, yang penting nyari komik lama. Komik semasa aku SD, kangen masa kecil bang. Jelasmu.

Kau tau, apa yang membuatku semakin hari semakin suka sama kamu? Kamu selalu ingat akan janjimu, kamu selalu berusaha mendapatkan apa yang kamu mau, Kamu selalu berusaha agar semuanya rapi pada tempatnya. Waktu itu, kita sedang duduk di cafe, sambil baca buku, dan aku duduk tepat didepanmu. Aku memandangimu yang tengah asik baca komik. Iya, Aku pernah melihat barang-barangmu tertata dengan rapi. Sebenarnya aku sedikit kagum, tapi aku menyampaikannya dengan sedikit meledek. Rapi amat susunan barang-barangnya, udah kayak museum, candaku. Kamu berkilah, Aku pelupa bang, jadi barang-barang harus pada tempatnya masing-masing, sehingga kalau di perlukan, bisa digunakan dengan segera.

Bagaimana kalau aku melamarmu dengan setumpuk komik jadul, candaku waktu. Kamu terlihat girang sekali, boleh-boleh, Jawabmu singkat, dan tertawa berbinar-binar. Harus dengan komik lama dan yang bagus-bagus, sambungmu. Tapi sekejab kemudian, kamu berubah, Kayaknya enggak deh bang, aku pengen kayak wanita lain juga, di lamar pake cincin bulat, emas murni, syukur-syukur ada berliannya, candamu… Dan di sambung lagi. Aku belum siap untuk ke tahap yang lebih serius. Ga ada acara lamar-lamaran, titikkkkkk. Jawabmu. Lho, kenapa, tanyaku, sedikit mengeryitkan dahi. Pokoknya belum siap, Jawabmu singkat.

Sore itu, aku sengaja membawakanmu, Komik yang judulnya: Setinggi Langit dan Bintang. Seperti biasa, selepas pulang kantor, kita ketemu di pusat berpelanjaan di Jakarta Pusat. Setelah capek lihat-lihat pajangan baju, kita berhenti di Star Buck, kita duduk di pojok, dan telah membawa minuman masing-masing. Aku menyodorkan komik tersebut, setelah lihat judulnya, kamu tertawa dan amat senang, iya bang…. aku udah lama banget ga baca komik ini, aku suka banget ceritanya. Udah lama nyari-nyari komik ini tapi ga dapat-dapat. Aku sedikit nyombong… Iya dong, aku kan tau isi hati dan pikiranmu… timpalku, sambil tertawa cengengesan. Iya bang, makasih ya, Jawabmu.

Berapa sekarang umur kamu, tanyaku. Aku mencoba ngobrol serius. Kenapa emang, jawabmu. Kamu kan tau, tanggal berapa dan tahun berapa aku lahir, sambungmu. Iya, gak apa-apa, aku sekedar mengingatkan saja, ada hal-hal yang lebih penting untuk segera di lakukan, jangan menunggu terlalu lama, Jelasku. (sebenarnya, aku menasehati diri sendiri juga). Apa tuh, jawabmu. Pikir aja sendiri, jawabku singkat. Bersambung. Cintaku seindah Pelangi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *